Minggu, 02 Mei 2010

LAPORAN PENDAHULUAN MIOMA UTERI

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN MIOMA UTERI

I. Konsep Dasar Teori
A. Pengertian
Mioma uteri adalah neoplasma jinak berasal dari otot uterus yang dalam kepustakaan ginekologi juga terkenal dengan istilah-istilah fibrom ioma uteri, leromioma uteri atau uferine fibroid.
Frekuensi tumor ini sulit diketahui karena banyak diantara mereka tidak mempunyai keluhan apa-apa. Tumor ini tergolong tumor pelviks dan sering ditemukan pada masa reproduksi. Diperkirakan bahwa frekuensi mioma uteri kurang lebih 10% dari jumlah seluruh penyakit pada alat-alat genital.
B. Penyebab
1. asimtomatik (belim diketahui secara pasti)
2. menurut teori cell Nest (teori genitoblast) yang diajukan oleh Meyer dan De Snoo, dimana mioma uteri berasal dari sel-sel imatur yang mendapat rangsangan estrogen terus menerus.
3. keadaan sosial ekonomi rendah.
C. Patologi
Menurut letaknya, mioma uteri dapat dibagi menjadi:
1. mioma submukosa, berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam kavum uteri. Mioma sub mukosum dapat bertangkai menjadi polip lalu dilahirkan melalui kanalis servikalis (mioma geburt).
2. mioma intramura, terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium.
3. mioma subserosum, tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Mioma subserosum dapat menempel pada jaringan sekitar kemudian membebaskan diri(wondering/parasitis fibroid)
Bila mioma uteri dibelah, tampak terdiri atas berkas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti konde/pusaran air dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar.
D. Tanda dan gejala
1. tanda gejala ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan ginekologi.
2. perdarahan abnormal.
3. Rasa nyeri.
4. Akibat penekanan: pada kandung kencing menyebabkan poliuri, pada uretra menyebabkan retensio urine, pada ureter menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum menyebabkan oedem tungkai dan nyeri panggul.
5. Infertilitas dan abortus
Infertilitas dapat terjadi jika mioma intramural menutup atau menekan pars interstisialis tubae. Mioma submukosum memudahkan terjadinya abortus. Apabila ditemukan mioma pada wanitadengan keluhan infertilitas harus dilakukan pemeriksaan yang seksama terhadap sebab-sebab lain dari infertilitas sebelum menghubungkannya dengan adanya mioma uteri.
E. Komplikasi
1. Pertumbuhan leimiosarkoma
Adalah tumor yang tumbuh dari miometrium dan merupakan 50-75% dari semua sarkoma uteri. Kecurigaan terhadap sarkoma pada mioma uteri timbul suatu mioma uteri yang selama beberapa tahun tidak membesar sekonyong-konyong menjadi besar. Apalagi hal itu terjadi sesudah menopause. Yang menjadi persoalan dalam hal ini adalah apakah sarkoma tumbuh dalam jaringan mioma sendiri atau dalam jaringan miometrium di luar mioma.
2. tersi atau putaran tungkai
Adakalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau hal ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan nampak gambaran klinik dari abdomen akut. Pada mioma parasitik atau mioma mengembang, mioma berdiri sendiri dan hidupnya tak tergantung lagi pada pemberian darah melalui tangkai. Mioma ini berada bebas dalam rongga perut dan menimbulkan kesukaran diagnostik.
3. nikrosis dan infeksi
Pada mioma submukosumyang menjadi polip ujung tumor kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan melahirkan melalui vagina. Dalam hal ini ada kemungkinan gangguan sirkulasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. Penderita mengeluh tentang perdarahan yang bersifat menoragia atau metroragia dan leokorea.
F. Penatalaksanaan medis
1. pengobatan penunjang
khusus sebagai penunjang pengobatan bagi penderita dengan anemia karena hiper minoreadapat diberikan ferum, tranfusi darah diit kaya protein, kalsium, dan vitamin c. Sementara direncanakan pengobatan yang difinitif.
2. Pengobatan operatif
a. Miomektomi
Miomektomi atau operasi pengangkatan mioma tanpa mengorbankan uterus dilakukan pada mioma subversum bertangkai atau jika fungsi uterus masih dipertahankan. Pada mioma submukosum yang dilahirkan dalam vagina, umumnya tumor dapat diangkat pervagina tanpa mengangkat uterus.
Keberatan terhadap miomektomi adalah:
1) angka residitif 2,10%. Mungkin hal ini disebabkan oleh kurang ketelitian waktu operasi, akan tetapi mungkin pula ada mioma-mioma sangat kecil yang tidak terlihat pada operasi dan mioma ini kemudian menjadi besar.
2) Perdarahan pada operasi ini kadang-kadang banyak.
b. histerektomi
umumnya dilakukan histerektomi abdominal akan tetapi jika uterusnya tidak terlalu besar dan apalagi jika terdapat pula prolapsus uteri histerektomi vaginal dapat dipertimbangkan.
3. sinar rontgen dan radium
sebelum dilakukan pengobatan dengan sinar harus dilakukan kerokan dahulu untuk mengetahui bahwa tidak ada karsinoma endonutii. Dengan penyinaran fungsi ovarium dihentikan dan tumor akan mengecil. Pemberian sinar rontgent akan lebih baik daripada radium karena dapat menyebabkan nekrosis dan infeksi pada tumor.
4. hormonal
estrogen untuk pasien setelah menopause dan observasi setiap 6 bulan.



II. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Mioma Uteri
A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan
Kaji pasien terhadap adanya penyakit lain seperti penyakit tiroid.
2. Riwayat keluarga
Kaji adanya riwayat penyakit keluarga seperti gangguan tiroid, penyakit pada sistem reproduksi maupun lainnya.
3. Riwayat obstetri
a. riwayat menstruasi
b. riwayat perkawinan
c. riwayat penggunaan alat kontrasepsi
d. riwayat penyakit hubungan seksual yang pernah diderita pasien
e. penyakit kesehatan keluarga dan penyakit yang pernah diderita pasien
4. Data subjektif
Meliputi gejala saat ini (gejala saat dilakukan pengkajian)
B. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan abdomen: uterus yang amat membesar dapat dipalpasi pada abdomen. Tumor teraba sebagai nodul ireguler dan tetap, area perlunakan memberi kesan adanya perubahan-perubahan degeneratif, leiomioma lebih terpalpasi pada abdomen selama kehamilan. Perlunakan pada abdomen yang disertai nyeri lepas dapat disebabkan oleh perdarahan intraperitoneal dari ruptur vena pada permukaan tumor.
2. pemeriksaan pelvis: servik biasanya normal. Namun pada keadaan tertentu, leiomioma submukosa yang bertangkai dapat mengawali dilatasi serviksdan terlihat pada osteum servikalis. Uterus cenderung membesar dan tidak beraturan serta noduler.
C. Prosedur diagnostik
1. Tes laboratorium
Hitung darah lengkap dan apusan darah: leukositosis dapat disebabkan oleh nekrosis akibat torsi atau degenerasi. Menurunnya kadar hemoglobin dan hematokrit menunjukkan adanya kehilangan darah yang kronik.
2. Tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin
Sering membantu dalam evaluasi suatu pembesaran uterus yang simetrik menyerupai kehamilan atau terdapat bersama-sama dengan kehamilan.
3. Ultrasonografi
Apabila keberadaan massa pelvis meragukan, sonografi dapat membantu.
4. Pielogram intravena
Dapat membantu dalam evaluasi diagnostik.
5. Pap smear serviks
Selalu diindikasikan untuk menyingkap neoplasia serviks sebelum histerektomi.
6. Histerosal pingogram
Dianjurkan bila klien menginginkan anak lagi dikemudian hari untukmengevaluasi distorsi rongga uterus dan kelangsungan tuba falopii.


D. Pohon masalah
Mioma uteri


Serviks uteri korpus uteri

Kanalis servikalis


Bagian yang ditumbuhi mioma membesar



Penyempitan kanalis miometrium terdesak
Servikalis

Nyeri terbentuk psedokopnea


E. Diagnosa keperawatan
1. Perubahan pola eliminasi (BAK) b/d penurunan kapasitas kandung kemih akibat kanker ditandai dengan pasien mengeluh sering kencing.
2. Konstipasi b/d penuruna peristaltik sekunder terhadap pembesaran mioma uteri ditandai dengan adanya rasa tertekan di daerah anus.
3. Gangguan rasa aman cemas b/d gangguan pada integritas biologis sekunder terhadap infertilitas ditandai dengan terjadinya penutupan dan penekanan pada pars interstitialis.
4. Nyeri akut b/d penyempitan kanalis servikalis sekunder akibat kanker.
5. Risiko kekurangan volume cairan b/d perdarahan.
F. Rencana keperawatan
1. Dx 1
- Perhatikan pola berkemih atau awasi haluaran urine
- Palpasi kandung kemih, selidiki / kaji kenyamanan berkemih
- Berikan perawatan perinial
- Kolaborasi pemasangan kateter bila di indikasikan
- Kaji karateristik urine; warna, bau dan kejernihan
- Periksa residu volume urine setelah berkemih
2. Dx 2
- Auskultasi bising usus, perhatikan adanya disternsi abdomen
- Dorong pemasukan cairan adekuat termasuk sari buah
- Gunakan sarung rektal, lakukan kompres hangat di daerah perut
- Berikan obat pelunak feses, laksatif setelah berkemih
3. Dx 3
- Kaji adanya palpitasi, gelisah, dispnea
- Kaji perasaan saat sangant sedih dan tidak berharga, keprihatinan, penolakan, isolasi
- Kaji tingkat ansietas
- Beri pemahaman / penentraman hati dan kenyamanan dengan berbicara pelan dan tenang
- Tunjukkan sikap empati
- Berikan penjelasan secara lengkap tentang keadaan pasien penyakit dan pengobatan yang harus dijalani termasuk tindakan yang akan diberikan.
4. Dx 4
- Kaji skala nyeri
- Jelaskan penyebab nyeri
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi
- Kolaborasi tindakan miomektomi
5. Dx 5
- Kaji intake dan output cairan
- Periksa turgor kulit
- Observasi adanya perdarahan
- Beri intake yang adekuat
G. Evaluasi
1. Dx 1
- Pola eliminasi BAK kembali normal
- Pasien tampak nyaman
2. Dx 2
- Pola BAB pasien kembali normal
- Bising usus normal (5-35 x/mnt)
- Distensi abdomen (-)
3. Dx 3
- Pasien lebih tenang
- Pasien tidak sdih dan tidak cemas
- Pengetahuan tentang penyakitnya bertambah
4. Dx 4
- Nyeri berkurang / menghilang
- Dapat beristirahat sesuai dengan kebutuhan
- Pasien tidak meringis
5. Dx 5
- Kebutuhan cairan pasien terpenuhi
- Perdarahan (-)
- Turgor kulit elastis



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (2000) Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta : EGC

Doenges, M.E. (1999) Rencana Keperawatan, Edisi 3. Jakarta : EGC

Manuaba, I. (2001) Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi Dan KB. Jakarta : EGC

Sastrawinata, dkk,. (1998) Ginekologi. Bandung : Elstar Offiset

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

News

Loading...