Minggu, 02 Mei 2010

LAPORAN PENDAHULUANPRILAKU KEKERASAN/ AGRESIFITAS

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
PRILAKU KEKERASAN/ AGRESIFITAS

I. Konsep Teori
A. Pengertian
Prilaku kekerasan/ agresifitas adalah suatu tindakan kekerasan yang dinyatakan secara verbal yang ditunjukkan kepada benda,orang lain maupun dirinya sendiri. Prilaku tersebut sering kali berkaitan dengan perasaan marah, bermusuhan, melakukan ide-ide dorongan membunuh atau prosese psikotik lainnya seperti halusinasi, waham yang sering dijumpai pada pasien Schizoprenik. Prilaku terzsebut dapat berkembang secara lambat laun dan dapat pula secara mendadak tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
Pasien Schizoprenik dengan prilaku agresif destruktif pada umumnya tidak mengendalikan dirinya,oleh karena itu pengendalian dan kontrol dari pasien tersebut sepenuhnya berada ditangan perawat dan petugas lainnya.

B. Tanda Dan Gejala Prilaku Kekerasan/Agresifitas :
1. Meningkatnya prilaku mondar-mandir
2. Rahang kencang,menggigit gigi, postur tubuh kaku
3. Tindakan terbuka dan agresif, destruksi yang diarahkan langsung pada objek-objek di lingkungan
4. peningkatan aktivitas motorik,mondar-mandir, gembira, peka rangsang, agitasi

C. Faktor yang Berhubungan
1. Mungkin kecendrungan keluarga
2. Trauma pad sistem saraf pusat
3. Tidak berfungsinya sistemkeluarga, mengakibatkan prilaku seperti:
a. Penganiayaan atau pegabaian anak
b. Penolakan atau meninggalkan orang tua
c. Disiplin keras atau tidak konsisten
d. Deprivasi emsional
e. Orang tua penyalah guna zat
f. Orang tua tidak dapat diduga

D. Penyebab Terjadinya Prilaku Kekerasan
1. Dari klien
 Kelemahan fisik
 Keputusasaan
 Ketidaberdayaan
 Percaya diri kurang
2. Dari lingkungan atau intaglase dengan orang lain
 Situasi lingkungan yang rebut
 Situasi yang padat
 Kritikan yang mengarah pada penghinaan
 Kehilangan orang yang dicintai
 Interaksi sosial dengan provokatif dan konflik

E. Rentang Respon


Respon adaptif Respon Maladaptif

Peningkatan diri Pertumbuhan peningkatan berisiko Prilaku destruktif diri tidak langsung Pencederaan diri Bunuh diri


II. Konsep Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
Dari pengkajian data pada pasien Schizofrenik dengan keadaan agresif destruktif sering kita jumpai tanda-tanda antara lain; ekspresi mata liar, muka tegang,mata merah,tangan dikepalkan, kadang-kadang gemetar,rahang mengatup, tak mau diajak berkomunaikasi, gelisah, jalan kesana-kemari tanpa tujuan, meggebrak meja,nada suara meninggi, berteriak, kehilangan kontrol dan pengendalian diri, mengeluarkan kata-kata ancaman untuk membunuh atau merusak benda,mengancam melukai diri sendiri atau orang lain, ada perasaan marah atau bermusuhan, rasa cemas, takut/ panik, merasa diri tak berharga atau tak berguna, ada perasaan berdosa yang berlebihan,ada halusinasi atau ilusi, ada waham.
Masalah utama :
a. Gangguan prilaku ; kekerasan
b. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya
c. Gangguan konsep diri ; harga diri rendah
Pohon Masalah
Resiko menncederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Prilaku kekerasan

Gangguan konsep diri ; harga diri rendah

B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan kekerasan
2. Gangguan prilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan konsep diri ; harga diri rendah

C. Rencana Tindakan dan Intervensi
Tgl Diagnosa Kep Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Resiko mencederai diri sendiri b/d prilaku kekerasan TUM : Klien dpt melanjutkan peran sesuai dg tanggung jawab
Tuk 1 : klien dpt membina hub. Saling percaya

Tuk 2 : Klien dpt mengidentifikasi penyebab prilaku kekerasan

Tuk 3: Klien dpt mengidentifikasi tanda-tanda prila- ku kekerasan

Tuk 4 : Klien me- ngidentifikasi prilaku kekerasan yg biasa dilakukan
 Klien mau membalas salam
 Klien mau menjabat tangan
 Klien mau menyebut nama
 Klien mau tersenyum
 Klien mau kontak mata
 Klien mau mengetahui nama perawat

 Klien mengungkapkan perasaannya
 Klien dapat mengungkapkan penyebab jengkel/ kesal (dari diri sendiri, lingkungan /orang lain)

 Klien dpt mengungkapkan perasaan marah/ jengkel
 Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda jengkel/ kesal yg dialami

 Klien dapat mengungkapkan prilaku kekerasan yg dilakukan
 Klien dapat bermain peran dengan prilaku kekerasan yg biasa dilakukan

 Beri salam/ panggil nama
 Sebut nama perawat sambil jabat tangan
 Jelaskan maksud hubungan interaksi
 Jelaskan kontrak yang akan dibuat
 Beri rasa aman dan empati
 Lakukan kontak sing kat tapi sering


 Beri kesempatan untuk mengungkapkan pe- rasaannya
 Bantu klien meng- ungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal


 Anjurkan klien me-ngungkapkan yang dialami dan dirasa-kan saat jengkel / kesal
 Observasi tanda pri- laku kekerasan pada klien
 Klien tanda-tanda jengkel/ kesal yang dialami klien

 Anjurkan klien untuk mengungkapkan prilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien
 Bantu klien bermain peran sesuai dengan prilaku kekerasan yg biasa dilakukan

Tuk 5: klien dpt mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan

Tuk 6: klien dpt mengidentifikasi cara konstrutitif dalam berespon thd kemarahan

Tuk 7 : klien dpt mendemontrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan

Tuk 8: klien men-dapat dukungan keluarga dalam me ngontrol prilaku kekerasan


 Klien dapat mengetahui cara yg biasa dapat menyelesaikan masalah/ tidak
 Klien dapat menjelaskan akibat dan cara yang digunakan klien

 Klien dapat melak-sanakan cara berespon yg baik terhadap kemarahan secara kontruktif


 Klien dapat mende-montrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan
 Fisik, tingkah laku, nafas verbal mengatakan secara langsung tidak menyakiti
 Spiritual sembahyang

 Keluarga klien dpt me-nyebutkan cara mera-wat klien yg berperila-ku kekerasan
 Mengungkapkan rasa puas dan merawat klien
 Bicara dengan klien apakah dengan cara klien lakukan masalah bias selesai
 Bicara akibat/ keru-sakan dan cara yang dilakukan klien
 Bersama klien me- nyimpulkan akibat cara-cara yang di-gunakan oleh klien

 Tanyakan pada klien apakah ia ingin mem peroleh cara baru yang sehat
 Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yg sehat
 Berikan pujian jika mengetahui cara lain yang sehat

 Diskusikan dg klien cara lain yang sehat
 Bantu klien mempe- lajari cara-cara yg paling baik untuk klien
 Bantu klien mengi-dentifikasi manfaat yang dipilih
 Beri rensfoncement positif
 Anjurkan klien menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel/ marah
 Identifikasi kemam-puan klg dlm mera-wat klien dari sikap apa yang telah dila-kukan klg thd klien selama ini

Tuk 9 : klien dapat menggunakan obat yang benar

 Kilen dpt menyebutkan obat-obat yang diminum dan kegunaannya
 Klien dpt minum obat sesuai dengan program pengobatan  Jelaskan peran serta klg dalam merawat klien
 Bantu klg mende-montrasikan cara merawat klien
 Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum klien pd klien dan keluarga
 Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizing dokter
 Jelaskan prinsip benar minum obat
 Anjurkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu
 Anjurkan klien melapor perawat/ dokter jika merasa efek yang tidak menyenangkan
 Beri pujian jika klien minum obat dengan benar

LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN EKTOPIK

LAPORAN PENDAHULUAN
PASIEN DENGAN KEHAMILAN EKTOPIK


A. Konsep Dasar Kehamilan Ektopik
1. Pengertian
Gangguan reproduksi yang berkaitan dengan kegagalan dalam proses nidasi yang benar, terus meningkat dalam 15 tahun belakangan ini. Bukan saja di Amerika Serikat tapi juga di seluruh dunia. Saat ini lebih dari 1 dalam 1000 kehamilan di Amerika Serikat merupakan kehamilan ektopik. Resiko kematian akibat kehamilan di luar rahim 10 kali lebih besar daripada persalinan pervaginam dan 50 kali lebih besar daripada abortus induksi. (Donmanf, 1983)
Kehamialn ektopik ialah kehamilan, dimana ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh tidak di tempat yang normal yakni dalam endometrium kavum uteri, melainkan pada tempat seperti tuba fallopi (paling sering), ovarium,omentum dan serviks. Istilah kehamilan ektopik lebih tepat dari istilah ekstra uterin (kehamilan yang berlokasi di luar uterus) ,oleh karena terdapat beberapa jenis kehamialn ektopik. Misalnya pada kehamilan Pars Interstisialis Tubae dan kehamilan pada serviks uteri.

2. Penyebab
Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik :
a. Faktor-faktor mekanis yang mencegah atau menghambat perjalanan ovum yang telah dibuahi ke dalam kavum uteri.
 Salpingitis, khususnya endosalpingitis yang menyebabakan aglutinasi lipatan arboresen mokosa tuba dengan penyempitan lumen atau pembentukan kantong-kantong buntu.
 Adhesi Peritubal setelah pasca abortus atau infeksi masa nifas, apendisitis ataupun endometriosis.
 Kelainan pertumbuhan tuba, khususnya divertikulum,ostium asesorius dan hipoplasia.
 Kehamilan ektopik sebelumnya, dansesudah sekali mengalami kehamilan ektopik.
 Pembedahan sebelumnya pada tuba.
 Abortus induksi yang dilakukan lebih dari satu kali akan memperbesar risiko terjadinya kehanilan ektopik.
 Tumor yang mengubah bentuk tuba, seperti mioma uteri dan benjolan pada adneksa.
 Penggunaan alat kontrasepsi.
b. Faktor-faktor fungsional yang memperlambat perjalan ovum yang telah dibuahi ke dalam kavum uteri.
 Migrasi eksternal ovum menyebabkan kelambatan pengangkutan ovum yang telah dibuahi lewat saluran tuba atau oviduk.
 Refluks Menstrual. Kelambatan fertilisasi ovum dengan perdarahan menstruasi, dapat mencegah masuknya ovum ke dalam uterus atau menyebabakan ovum tersebut berbalik ke dalam tuba.
 Berubahnya motilitas tuba dapat terjadinya mengikuti perubahan pada kadar estrogen dan progesterone dalam serum
c. Peningkatan atau daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang telah di buahi. Unsur-unsur ektopik endometrium dapat meningkatkan implantasi dalam tuba.

3. Patofisiologi
Salah satu fungsi saluran telur yaitu untuk membesarkan hasil konsepsi (zigot) sebelum turun dalam rahim.Tetapi oleh beberapa sebab terjadi gangguan dari perjalanan hasil konsepsi dan tersangkut serta tumbuh dalam tuba.
Saluran telur bukan tempat ideal untuk tumbuh kembang hasil konsepsi. Disamping itu penghancuran pembuluh darah oleh proses proteolitik jonjot koreon menyebabkan pecahnya pembuluh darah.Gangguan perjalanan hasil konsepsi sebagian besar karena infeksi yang menyebabkan perlekatan saluran telur. Pembuluh darah pecah karena tidak mempunyai kemampuan berkontraksi maka pendarahan tidak dapat dihentikan dan tertimbun dalam ruang abdomen. Perdarahan tersebut menyebabkan perdarahan tuba yang dapat mengalir terus ke rongga peritoneum dan akhirnya terjadi rupture, nyeri pelvis yang hebat dan akan menjalar ke bahu.
Ruptur bisa terjadi pada dinding tuba yang mengalami mesosalping yaitu darah mengalir antara 2 lapisan dari mesosalping dan kemudian ke ligamentum lalum. Perubahan uterus dapat ditemukan juga pada endometrium. Pada suatu tempat tertentu pada endometirum terlihat bahwa sel-sel kelenjar membesar dan hiper skromatik, sitoplasma menunjukan vakualisasi dan batas antara sel-sel menjadi kurang jelas. Perubahan ini disebabkan oleh stimulasi dengan hormon yang berlebihan yang ditemukan dalam endometrium yang berubah menjadi desidua. Setelah janin mati desidua mengalami degenerasi dan dikeluarkan sepotong demi sepotong. Pelepasan desidua ini disertai dengan pendarahan dan kejadian ini menerangkan gejala perdarahan pervaginam pada kehamilam ektopik yang terganggu

4. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi yang muncul mungkin terjadi pada kehamilan ektopik,antara lain :
a) Pada pengobatan konservatif, yaitu apabila ada ruptur tuba telah lama berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang (recurrent bleeding) ini merupakan indikasi operasi.
b) Dapat menyebabakan infeksi.
c) Terjadi subileus karena terdapat massa pada pelvis.
d) Terjadi sterilitas.
e) Apabila perdarahan terjadi secara terus-menerus maka bisa terjadi anemia akibat kekurangan darah.


5. Tanda dan Gejala
a. Adanya amenore, walaupun hanyapendek saja sebelum diikuti oleh perdarahan.
b. Terjadi perdarahan yang berlangsung kontinu dan biasanya berwarna hitam.
c. Timbul rasa nyeri pada perut bawah yang sering bertambah dan keras. Nyeri ini biasanya timbul mendadak, dapat lokal atau difus.
d. Keadaan umum pasien : tergantung dari banyaknya darah yang keluar dari tuba, keadaan umum adalah kurang lebih normal sampai gawat dengan syok berat dan anemi. Suhu badan agak meningkat pada abortus tuba yang sudah berlangsung beberapa waktu.
e. Pada abortus tuba terdapat terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah di sisi uterus dan pada pemeriksaan luar atau pemeriksaan bimanual ditemukan tumor yang tidak begitu padat. Dan akan terasa nyeri sekali pada pemeriksaan panggul, terutama di daerah kavum douglasi dan sewaktu serviks digerakan.
f. Terjadi pembesaran uterus sampi 2 kali ukuran normal.
g. Terjadi penekan pada daerah rektum.

6. Gambaran Klinik / Manifestasi Klinik
a. Kehamilan yang muda dan tidak terganggu, ada gejala-gejala, seperti kehamilan normal yaitu amenore, enek, sampai muntah.
b. Amenore diikuti perdarahan yang berlangsung cuckup lama dan darah berwarna kehitaman.
c. Rasa nyeri kiri/kanan pada perut bagian bawah.
d. Uterus yang terus membesar dan lembek seperti pada kehamialn intra uterin. Pada kehamilan 2 bulan selain uterus membesar ditemukan tumor yang lembek dan licin.
e. Tergantung dari banyaknya darah yang keluar ke rongga perut, penderita tampak biasa saja atau tampak anemis, suhu badan agak naik.
f. Perut membesar menunjukan tanda-tanda rangsanga peritoneum debgab nyeri keras pada palpasi, kadang ditemukan adanya cairan bebas dalam rongga perut.
7. Penatalaksanaan Medis
a. Penderita yang disangka mengalami kehamilan ektopik terganggu (KET) harus dirawat inap di rumah sakit untuk penanggulangannya.
b. Bila wanita mengalami atau dalam keadaan syok, maka perbaiki keadaan umumnya dengan cairan yang cukup (dekstrosa 5%, glukosa 5%, garam fisiologi dan tranfusi darah).
c. Sisa-sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan luka lebih cepat.
d. Berikan antibiotic yang cukup dan obat anti inflamasi.
e. Setelah diagnosa jelas, segara lakukan tindakan lapratomi untuk menghilangkan sumber perdarahan : dicari, diklem, dan dieksisi sebersih mungkin kemudian diikat sebaik-baiknya.
f. Salpingektomi : mengangkat kehamilan yang kecil dengan panjang kurang dari 2 cm dan terletak dalam bagian 1/3 distal tuba fallopi, tempat perdarahan dikendalikan dengan elektro atau laser dan luka insisi dibiarkan tanpa penjahitan sampai sembuh sendiri.


B. Askep pada Kehamilan Ektopik
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
b. Alasan Dirawat
• Keluhan utama : mual, muntah, nyeri abdomen
• Riwayat penyakit
- menanyakan penyakit yang pernah diderita pasien sebelumnya
- menanyakan penyakit yang sedang dialami sekarang
- menanyakan apakah pasien pernah menjalani operasi

• Riwayat keluarga
- menanyakan apakah di keluarga pasien ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular kronis
- menanyakan apakah dari pihak keluarga ibu atau suaminya ada yang memiliki penyakit keturunan
- menanyakan apakah dari pihak keluarga ibu atau suaminya pernah melahirkan atau hamil anak kembar dengan komplikasi.

• Riwayat obstetrik:
- menanyakan siklus menstruasi apakah teratur atau tidak
- menanyakan berapa kali ibu itu hamil
- menanyakan berapa lama setelah anak dilahirkan dapat menstruasi dan berapa banyak pengeluaran lochea
- menanyakan jika datang menstruasi terasa sakit
- menanyakan apakah pasien pernah mengalami abortus
- menanyakan apakah di kehamilan sebelumnya pernah mengalami kelainan
- menanyakan apakah anak sakit panas setelah dilahirkan
- menanyakan apakah pasien menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim

c. Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (Data Fokus)
1. Makan minum
tanda : nafsu makan menurun (anoreksia), mual muntah, mukosa bibir kering, pucat.
2. Eliminasi
tanda : BAB konstipasi, nyeri saat BAB
BAK Sering kencing
3. Aktivitas
tanda : nyeri perut saat mengangkat benda berat, terlihat oedema pada ekstremitas bawah (tungkai kaki)
d. Pemeriksaan Umum
1. Inspeksi
• terlihat tanda cullen yaitu sekitar pusat atau linia alba kelihatan biru, hitam dan lebam
• terlihat gelisah, pucat, anemi, nadi kecil, tensi rendah
2. Pada palpasi perut dan perkusi
• terdapat tanda-tanda perdarahan intra abdominal (shifting dullness)
• nyeri tekan hebat pada abdomen
• Douglas crisp: rasa nyeri hebat pada penekanan kavum Douglasi
• Kavum douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah.
• Teraba massa retrouterin (massa pelvis)
3. Nyeri bahu karena perangsangan diafragma
4. Nyeri ayun saat menggerakkan porsio dan servik ibu akan sangat sakit

e. Pemeriksaan Diagnostic
1. Pemeriksaan laboratorium
• pemeriksaan Hb setiap satu jam menunjukkan penurunan kadar Hb
• timbul anemia bila telah lewat beberapa waktu
• leukositosis ringan ( < 15000)
2. Pemeriksaan tes kehamilan
• tes baru yang lebih sensitive berguna karena lebih mungkin positif pada kadar HCG yang lebih rendah
3. Pemeriksaan kuldosintesis
• untuk mengetahui adakah darah dalam kavum douglasi
• untuk memastikan perdarahan intraperitonial dan dapat memberikan hasil negative palsu atau positif palsu
4. Diagnostic laparoskopi
• untuk mendiagnosis penyakit pada organ pelvis termasuk kehamilan ektopik


5. Ultra sonografi (USG)
• untuk mendiagnosis kehamilan tuba dimana jika kantong ketuban bisa terlihat dengan jelas dalam kavum uteri maka kemungkinan kehamilan ektopik terjadi
6. Diagnostic kolpotomi
• infeksi langsung tuba fallopi dan ovarium. Prosedur ini tidak dilakukan lagi karena hasil kurang memuaskan
7. Diagnostic kuretase
• pembedahan antara abortus iminens atau inkomplitus pada kehamilan intrauteri dengan kehamilan tuba. Ditemukannya desidua saja dalam hasil kuret uterus yang menunjukan kehamilan ekstrauteri.

2. Pohon Masalah

saluran telur

untuk membesarkan hasil konsepsi

terjadi gangguan hasil konsepsi dan tersangkut di tuba

infeksi

peningkatan infeksi tuba

Rupture Tuba

Perdarahan

Anemia

Kelemahan

Penurunan Aktivitas

Gangguan Mobilitas Fisik


3. Diagnosa Keperawatan Dan Rencana Intervensi
a. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d trauma jaringan sekunder akibat pembedahan perut
Rencana Intervensi :
Oservasi tanda vital
  • Kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien
  • Ajarkan tekhnik distraksi dan relaksasi
  • Beri posisi yang nyaman
  • Perhatikan lingkungan yang nyaman
  • Kolaboratif pemberian analgetik
b. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang kehamilan ektopik
Rencana intervensi :
  • Diskusikan gejala infeksi luka yang harus dilaporkan kepada dokter
  • Jelaskan pentingnya waktu istirahat berencana
  • Tekankan pentingnya mencegah kehamilan dalam waktu 2-4 bulan atau sesuai indikasi
  • Jelaskan bahwa kemampuan untuk melahirkan dapat menurun khususnya jika kehamilan tuba disebabkan oleh infeksi pelvis atau anomali tuba
c. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan sekunder akibat anemia
Rencana intervensi :
  • Observasi tanda vital setelah aktivitas
  • Bantu pasien untuk ambulasi dini dan meningkatkan aktivitas secara bertahap
  • Anjurkan untuk meningkatkan asupan nutrisi tinggi Fe dan tinggi protein
  • Delegatif pemberian transfusi darah dan cairan parentral
d. Berduka b/d kehilangan janin
Rencana intervensi :
  • Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaan
  • Biarkan pasien secara verbal mengekspresikan tentang perasaannya
  • Beri motivasi kepada orang terdekat untuk memberi dukungan
  • Beri dukungan untuk melanjutkan aktivitas
e. Risiko kekurangan volume cairan b/d ketidakadekuatan masukkan cairan dan kehilangan cairan sekunder
  • Pantau intake dan output
  • Observasi tanda vital
  • Delegatif dalam pemberian cairan intravena
f. Risiko terjadi infeksi b/d luka operasi dan pemasangan alat-alat perawatan
  • Beri KIE tentang hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi
  • Rawat luka secara steril
  • Beri perawatan terhadap dower kateter dan rawat lokasi tempat pemasangan infus
  • Kolaborasi dalam pemberian antibiotika
g. Risiko terhadap konstipasi b/d penurunan peristaltik sekunder akibat dari efek anastesi pembedahan
  • Mobilisasi pasien secepatnya di tempat tidur secara bertahap : miring kanan dan kiri, menggerakkan kaki dan tungkai
  • Pertahankan kehangatan pasien

4. Evaluasi
a. nyeri pada abdomen berkurang
b. pengetahuan pasien bertambah
c. pasien mampu kembali beraktivitas
d. pasien mengungkapkan perasaannya tenang / sudah membaik
e. kebutuhan cairan pasien terpenuhi / adekuat
f. infeksi tidak menjadi actual
g. pasien mampu untuk eleminasi (BAB) secara normal sesuai kebiasaan


Daftar Pustaka

1. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fk. Padjajaran, 1984. Obstetri Patologi Bandung. Elstar Ofset
2. Cunningham, Mac Donald, 1995. Obstetri Williams Edisi 18. Jakarta : EGC
3. Manuaba Ida Bagus Gede, 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan
4. Prawirohardjo Sarwono, 1989. Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka
5. Richard, dkk. Kedaruratan Obstetri Edisi 3
6. Rustam Mochtar, MPH, 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC

LAPORAN PENDAHULUAN KEHAMILAN EKTOPIK

LAPORAN PENDAHULUAN
PASIEN DENGAN KEHAMILAN EKTOPIK


A. Konsep Dasar Kehamilan Ektopik
1. Pengertian
Gangguan reproduksi yang berkaitan dengan kegagalan dalam proses nidasi yang benar, terus meningkat dalam 15 tahun belakangan ini. Bukan saja di Amerika Serikat tapi juga di seluruh dunia. Saat ini lebih dari 1 dalam 1000 kehamilan di Amerika Serikat merupakan kehamilan ektopik. Resiko kematian akibat kehamilan di luar rahim 10 kali lebih besar daripada persalinan pervaginam dan 50 kali lebih besar daripada abortus induksi. (Donmanf, 1983)
Kehamialn ektopik ialah kehamilan, dimana ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh tidak di tempat yang normal yakni dalam endometrium kavum uteri, melainkan pada tempat seperti tuba fallopi (paling sering), ovarium,omentum dan serviks. Istilah kehamilan ektopik lebih tepat dari istilah ekstra uterin (kehamilan yang berlokasi di luar uterus) ,oleh karena terdapat beberapa jenis kehamialn ektopik. Misalnya pada kehamilan Pars Interstisialis Tubae dan kehamilan pada serviks uteri.

2. Penyebab
Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik :
a. Faktor-faktor mekanis yang mencegah atau menghambat perjalanan ovum yang telah dibuahi ke dalam kavum uteri.
 Salpingitis, khususnya endosalpingitis yang menyebabakan aglutinasi lipatan arboresen mokosa tuba dengan penyempitan lumen atau pembentukan kantong-kantong buntu.
 Adhesi Peritubal setelah pasca abortus atau infeksi masa nifas, apendisitis ataupun endometriosis.
 Kelainan pertumbuhan tuba, khususnya divertikulum,ostium asesorius dan hipoplasia.
 Kehamilan ektopik sebelumnya, dansesudah sekali mengalami kehamilan ektopik.
 Pembedahan sebelumnya pada tuba.
 Abortus induksi yang dilakukan lebih dari satu kali akan memperbesar risiko terjadinya kehanilan ektopik.
 Tumor yang mengubah bentuk tuba, seperti mioma uteri dan benjolan pada adneksa.
 Penggunaan alat kontrasepsi.
b. Faktor-faktor fungsional yang memperlambat perjalan ovum yang telah dibuahi ke dalam kavum uteri.
 Migrasi eksternal ovum menyebabkan kelambatan pengangkutan ovum yang telah dibuahi lewat saluran tuba atau oviduk.
 Refluks Menstrual. Kelambatan fertilisasi ovum dengan perdarahan menstruasi, dapat mencegah masuknya ovum ke dalam uterus atau menyebabakan ovum tersebut berbalik ke dalam tuba.
 Berubahnya motilitas tuba dapat terjadinya mengikuti perubahan pada kadar estrogen dan progesterone dalam serum
c. Peningkatan atau daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang telah di buahi. Unsur-unsur ektopik endometrium dapat meningkatkan implantasi dalam tuba.

3. Patofisiologi
Salah satu fungsi saluran telur yaitu untuk membesarkan hasil konsepsi (zigot) sebelum turun dalam rahim.Tetapi oleh beberapa sebab terjadi gangguan dari perjalanan hasil konsepsi dan tersangkut serta tumbuh dalam tuba.
Saluran telur bukan tempat ideal untuk tumbuh kembang hasil konsepsi. Disamping itu penghancuran pembuluh darah oleh proses proteolitik jonjot koreon menyebabkan pecahnya pembuluh darah.Gangguan perjalanan hasil konsepsi sebagian besar karena infeksi yang menyebabkan perlekatan saluran telur. Pembuluh darah pecah karena tidak mempunyai kemampuan berkontraksi maka pendarahan tidak dapat dihentikan dan tertimbun dalam ruang abdomen. Perdarahan tersebut menyebabkan perdarahan tuba yang dapat mengalir terus ke rongga peritoneum dan akhirnya terjadi rupture, nyeri pelvis yang hebat dan akan menjalar ke bahu.
Ruptur bisa terjadi pada dinding tuba yang mengalami mesosalping yaitu darah mengalir antara 2 lapisan dari mesosalping dan kemudian ke ligamentum lalum. Perubahan uterus dapat ditemukan juga pada endometrium. Pada suatu tempat tertentu pada endometirum terlihat bahwa sel-sel kelenjar membesar dan hiper skromatik, sitoplasma menunjukan vakualisasi dan batas antara sel-sel menjadi kurang jelas. Perubahan ini disebabkan oleh stimulasi dengan hormon yang berlebihan yang ditemukan dalam endometrium yang berubah menjadi desidua. Setelah janin mati desidua mengalami degenerasi dan dikeluarkan sepotong demi sepotong. Pelepasan desidua ini disertai dengan pendarahan dan kejadian ini menerangkan gejala perdarahan pervaginam pada kehamilam ektopik yang terganggu

4. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi yang muncul mungkin terjadi pada kehamilan ektopik,antara lain :
a) Pada pengobatan konservatif, yaitu apabila ada ruptur tuba telah lama berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang (recurrent bleeding) ini merupakan indikasi operasi.
b) Dapat menyebabakan infeksi.
c) Terjadi subileus karena terdapat massa pada pelvis.
d) Terjadi sterilitas.
e) Apabila perdarahan terjadi secara terus-menerus maka bisa terjadi anemia akibat kekurangan darah.


5. Tanda dan Gejala
a. Adanya amenore, walaupun hanyapendek saja sebelum diikuti oleh perdarahan.
b. Terjadi perdarahan yang berlangsung kontinu dan biasanya berwarna hitam.
c. Timbul rasa nyeri pada perut bawah yang sering bertambah dan keras. Nyeri ini biasanya timbul mendadak, dapat lokal atau difus.
d. Keadaan umum pasien : tergantung dari banyaknya darah yang keluar dari tuba, keadaan umum adalah kurang lebih normal sampai gawat dengan syok berat dan anemi. Suhu badan agak meningkat pada abortus tuba yang sudah berlangsung beberapa waktu.
e. Pada abortus tuba terdapat terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah di sisi uterus dan pada pemeriksaan luar atau pemeriksaan bimanual ditemukan tumor yang tidak begitu padat. Dan akan terasa nyeri sekali pada pemeriksaan panggul, terutama di daerah kavum douglasi dan sewaktu serviks digerakan.
f. Terjadi pembesaran uterus sampi 2 kali ukuran normal.
g. Terjadi penekan pada daerah rektum.

6. Gambaran Klinik / Manifestasi Klinik
a. Kehamilan yang muda dan tidak terganggu, ada gejala-gejala, seperti kehamilan normal yaitu amenore, enek, sampai muntah.
b. Amenore diikuti perdarahan yang berlangsung cuckup lama dan darah berwarna kehitaman.
c. Rasa nyeri kiri/kanan pada perut bagian bawah.
d. Uterus yang terus membesar dan lembek seperti pada kehamialn intra uterin. Pada kehamilan 2 bulan selain uterus membesar ditemukan tumor yang lembek dan licin.
e. Tergantung dari banyaknya darah yang keluar ke rongga perut, penderita tampak biasa saja atau tampak anemis, suhu badan agak naik.
f. Perut membesar menunjukan tanda-tanda rangsanga peritoneum debgab nyeri keras pada palpasi, kadang ditemukan adanya cairan bebas dalam rongga perut.
7. Penatalaksanaan Medis
a. Penderita yang disangka mengalami kehamilan ektopik terganggu (KET) harus dirawat inap di rumah sakit untuk penanggulangannya.
b. Bila wanita mengalami atau dalam keadaan syok, maka perbaiki keadaan umumnya dengan cairan yang cukup (dekstrosa 5%, glukosa 5%, garam fisiologi dan tranfusi darah).
c. Sisa-sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan luka lebih cepat.
d. Berikan antibiotic yang cukup dan obat anti inflamasi.
e. Setelah diagnosa jelas, segara lakukan tindakan lapratomi untuk menghilangkan sumber perdarahan : dicari, diklem, dan dieksisi sebersih mungkin kemudian diikat sebaik-baiknya.
f. Salpingektomi : mengangkat kehamilan yang kecil dengan panjang kurang dari 2 cm dan terletak dalam bagian 1/3 distal tuba fallopi, tempat perdarahan dikendalikan dengan elektro atau laser dan luka insisi dibiarkan tanpa penjahitan sampai sembuh sendiri.


B. Askep pada Kehamilan Ektopik
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
b. Alasan Dirawat
• Keluhan utama : mual, muntah, nyeri abdomen
• Riwayat penyakit
- menanyakan penyakit yang pernah diderita pasien sebelumnya
- menanyakan penyakit yang sedang dialami sekarang
- menanyakan apakah pasien pernah menjalani operasi

• Riwayat keluarga
- menanyakan apakah di keluarga pasien ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular kronis
- menanyakan apakah dari pihak keluarga ibu atau suaminya ada yang memiliki penyakit keturunan
- menanyakan apakah dari pihak keluarga ibu atau suaminya pernah melahirkan atau hamil anak kembar dengan komplikasi.

• Riwayat obstetrik:
- menanyakan siklus menstruasi apakah teratur atau tidak
- menanyakan berapa kali ibu itu hamil
- menanyakan berapa lama setelah anak dilahirkan dapat menstruasi dan berapa banyak pengeluaran lochea
- menanyakan jika datang menstruasi terasa sakit
- menanyakan apakah pasien pernah mengalami abortus
- menanyakan apakah di kehamilan sebelumnya pernah mengalami kelainan
- menanyakan apakah anak sakit panas setelah dilahirkan
- menanyakan apakah pasien menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim

c. Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (Data Fokus)
1. Makan minum
tanda : nafsu makan menurun (anoreksia), mual muntah, mukosa bibir kering, pucat.
2. Eliminasi
tanda : BAB konstipasi, nyeri saat BAB
BAK Sering kencing
3. Aktivitas
tanda : nyeri perut saat mengangkat benda berat, terlihat oedema pada ekstremitas bawah (tungkai kaki)
d. Pemeriksaan Umum
1. Inspeksi
• terlihat tanda cullen yaitu sekitar pusat atau linia alba kelihatan biru, hitam dan lebam
• terlihat gelisah, pucat, anemi, nadi kecil, tensi rendah
2. Pada palpasi perut dan perkusi
• terdapat tanda-tanda perdarahan intra abdominal (shifting dullness)
• nyeri tekan hebat pada abdomen
• Douglas crisp: rasa nyeri hebat pada penekanan kavum Douglasi
• Kavum douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah.
• Teraba massa retrouterin (massa pelvis)
3. Nyeri bahu karena perangsangan diafragma
4. Nyeri ayun saat menggerakkan porsio dan servik ibu akan sangat sakit

e. Pemeriksaan Diagnostic
1. Pemeriksaan laboratorium
• pemeriksaan Hb setiap satu jam menunjukkan penurunan kadar Hb
• timbul anemia bila telah lewat beberapa waktu
• leukositosis ringan ( < 15000)
2. Pemeriksaan tes kehamilan
• tes baru yang lebih sensitive berguna karena lebih mungkin positif pada kadar HCG yang lebih rendah
3. Pemeriksaan kuldosintesis
• untuk mengetahui adakah darah dalam kavum douglasi
• untuk memastikan perdarahan intraperitonial dan dapat memberikan hasil negative palsu atau positif palsu
4. Diagnostic laparoskopi
• untuk mendiagnosis penyakit pada organ pelvis termasuk kehamilan ektopik


5. Ultra sonografi (USG)
• untuk mendiagnosis kehamilan tuba dimana jika kantong ketuban bisa terlihat dengan jelas dalam kavum uteri maka kemungkinan kehamilan ektopik terjadi
6. Diagnostic kolpotomi
• infeksi langsung tuba fallopi dan ovarium. Prosedur ini tidak dilakukan lagi karena hasil kurang memuaskan
7. Diagnostic kuretase
• pembedahan antara abortus iminens atau inkomplitus pada kehamilan intrauteri dengan kehamilan tuba. Ditemukannya desidua saja dalam hasil kuret uterus yang menunjukan kehamilan ekstrauteri.

2. Pohon Masalah

saluran telur

untuk membesarkan hasil konsepsi

terjadi gangguan hasil konsepsi dan tersangkut di tuba

infeksi

peningkatan infeksi tuba

Rupture Tuba

Perdarahan

Anemia

Kelemahan

Penurunan Aktivitas

Gangguan Mobilitas Fisik


3. Diagnosa Keperawatan Dan Rencana Intervensi
a. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d trauma jaringan sekunder akibat pembedahan perut
Rencana Intervensi :
Oservasi tanda vital
Kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien
Ajarkan tekhnik distraksi dan relaksasi
Beri posisi yang nyaman
Perhatikan lingkungan yang nyaman
Kolaboratif pemberian analgetik
b. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi tentang kehamilan ektopik
Rencana intervensi :
 Diskusikan gejala infeksi luka yang harus dilaporkan kepada dokter
 Jelaskan pentingnya waktu istirahat berencana
 Tekankan pentingnya mencegah kehamilan dalam waktu 2-4 bulan atau sesuai indikasi
 Jelaskan bahwa kemampuan untuk melahirkan dapat menurun khususnya jika kehamilan tuba disebabkan oleh infeksi pelvis atau anomali tuba
c. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan sekunder akibat anemia
Rencana intervensi :
 Observasi tanda vital setelah aktivitas
 Bantu pasien untuk ambulasi dini dan meningkatkan aktivitas secara bertahap
 Anjurkan untuk meningkatkan asupan nutrisi tinggi Fe dan tinggi protein
 Delegatif pemberian transfusi darah dan cairan parentral
d. Berduka b/d kehilangan janin
Rencana intervensi :
 Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaan
 Biarkan pasien secara verbal mengekspresikan tentang perasaannya
 Beri motivasi kepada orang terdekat untuk memberi dukungan
 Beri dukungan untuk melanjutkan aktivitas
e. Risiko kekurangan volume cairan b/d ketidakadekuatan masukkan cairan dan kehilangan cairan sekunder
 Pantau intake dan output
 Observasi tanda vital
 Delegatif dalam pemberian cairan intravena
f. Risiko terjadi infeksi b/d luka operasi dan pemasangan alat-alat perawatan
 Beri KIE tentang hal-hal yang dapat menyebabkan infeksi
 Rawat luka secara steril
 Beri perawatan terhadap dower kateter dan rawat lokasi tempat pemasangan infus
 Kolaborasi dalam pemberian antibiotika
g. Risiko terhadap konstipasi b/d penurunan peristaltik sekunder akibat dari efek anastesi pembedahan
 Mobilisasi pasien secepatnya di tempat tidur secara bertahap : miring kanan dan kiri, menggerakkan kaki dan tungkai
 Pertahankan kehangatan pasien

4. Evaluasi
a. nyeri pada abdomen berkurang
b. pengetahuan pasien bertambah
c. pasien mampu kembali beraktivitas
d. pasien mengungkapkan perasaannya tenang / sudah membaik
e. kebutuhan cairan pasien terpenuhi / adekuat
f. infeksi tidak menjadi actual
g. pasien mampu untuk eleminasi (BAB) secara normal sesuai kebiasaan


Daftar Pustaka

1. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fk. Padjajaran, 1984. Obstetri Patologi Bandung. Elstar Ofset
2. Cunningham, Mac Donald, 1995. Obstetri Williams Edisi 18. Jakarta : EGC
3. Manuaba Ida Bagus Gede, 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan
4. Prawirohardjo Sarwono, 1989. Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka
5. Richard, dkk. Kedaruratan Obstetri Edisi 3
6. Rustam Mochtar, MPH, 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC


Laporan Pendahuluan Persalinan Normal

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN PERSALINAN NORMAL

I. PENGERTIAN
Persalinan normal adalah proses kelahiran bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi. Atau persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi ( janin dan uri ), yang dapat hidup ke dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.(Rustam Mochtar, 1998)

II. SEBAB-SEBAB YANG MENIMBULKAN PERSALINAN
Penyebab persalinan belum diketahui dengan pasti, namun beberapa teori menghubungkan dengan factor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi.
a. Teori Penurunan Hormon
1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormon progesteron dan estrogen. Fungsi progesteron sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila progesterone turun.
b. Teori Plasenta Menjadi Tua
Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan konstraksi rahim.
c. Teori Distensi Rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenter.
d. Teori Iritasi Mekanik
Di belakang servik terletak ganglion servikale (Fleksus Frankenhausen).Bila ganglion ini di geser dan di tekan, misalnya oleh kepala janin akan timbul konstraksi uterus.



III. Tanda-Tanda Permulaan Persalinan
1. Lightening/Setting/Dropping yaitu kepala turun memasuki PAP terutama pada primigravida.
2. Perut kelihatan lebihmelebar, fundus uteri turun
3. Perasaan sering atau susah kencing karena tertekan olehbagian terbawah janin.
4. Perasaan sakit di perut dan pinggang oleh adanya konstraksi-konstraksi lemah dari uterus, kadang-kadang disebut “Fase Labor Pains “
5. Servik menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa berecampur darah (bloody show)


IV. PATOFISIOLOGIS

Rsk Krskn PROGESTERON
P’tukaran gas Konstraksi Face Maker
Konstraksi dalam keluar
Hiperventilasi
Servik tertarik dan membuka
Pertukaran O2 b’ Ó¨ Distensi korpus uteri

Rangsangan saraf sensori Perub. CO
Hipoksia Janin
SSP

Rsk Gwt Janin Mediator Nyeri Metabolisme

Rasa Sakit
Panas
Koping indiv. tak efektif Gang. Rasa nyaman

Kebut. Tidak terpenuhi Keringat
Rsk Ó¨ cairan
ENERGI

Kelelahan

Persalinan dgn tind Rsk Partus lama/kasep Rsk Asfiksia
Rsk Infeksi Neonatus
Rsk ggn integritas kulit Anak Lahir

Rsk fisio stlh melahirkan Rsk Infeksi Maternal
Pe+an anggota keluarga
Nyeri akut b/d episiotomi
Trauma Jaringan
Ketakutan b’gerak
Perdarahan Krisis situasi
Involusi t’gnggu (Perub. Peran & T. Jwb)


ATONIA UTERI





V. TANDA-TANDA IN PARTU
1. Rasa sakit oleh adanya his yang dating lebih kuat, sering dan teratur.
2. Keluar lendir dan bercampur darah yang lebih banyak, robekan kecil pada bagian servik.
3. Kadang-kadang ketuban pecah
4. Pada pemeriksaan daam, servik mendatar

IV. FISIOLOGIS PERSALINAN NORMAL

Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :

1. Kala I (kala pembukaan)
In partu (partu mulai) ditandai dengan keuarnya lender bercampur darah, servik mulai membuka dan mendatar, darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler, kanalis servikalis.
Kala pembukaan dibagi menjadi 2 fase :
 Fase laten : Pembukaan servik brlangsung lambat, sampai pembukaan berangsung 2 jam, cepat menjadi 9 cm.
 Fase aktif : Berlangsung selama 6 jam dibagi atas 3 sub fase :
1. periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
2. periode dilatasi maksimal (steady) selama 2 jam, pembukaan berlangsung 2 jam, cepat menjadi 9 cm.
3. periode deselerasi berlangsung lambat dalam waktu 2 jam pembukaan menjadi 10 cm.
Akhir kala I servik mengalami dilatasi penuh, uterus servik dan vagina menjadi saluran yang continue, selaput amnio ruptur, kontraksi uterus kuat tiap 2-3 menit selama 50-60 detik untuk setiap kontraksi, kepala janin turun ke pelvis.

2. Kala II (pengeluaran janin )
His terkoordinir cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali, kepaa janin telah turun dan masuk ruang panggul, sehingga terjadilah tekanan pada oto-otot darsar panggul yang secara reflek menimbulkan rasa ngedan karena tekanan pada rectum sehingga merasa seperti BAB dengan tanda anus membuka. Pada waktu his kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin akan lahir dan diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II pada primi 1.5-2 jam, pada multi 0.5 jam.

3. Kala III (pengeluaran plasenta)
Setelah bayi lahir, kontraksi, rahim istirahat sebentar, uterus teraba keras dengan fundus uteri sehingga pucat, plasenta menjadi tebal 2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul his, pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit, seluruh plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan lahir secara spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simpisis/fundus uteri, seluruh proses berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc.

4. Kala IV
Pengawasan, selama 2 jam setelah bayi dan uri lahir, mengamati keadaan ibi terutama terhadap bahaya perdarahan post partum. Dengan menjaga kondisi kontraksi dan retraksi uterus yang kuat dan terus-menerus. Tugas uterus ini dapat dibantu dengan obat-obat oksitosin.

VII. ASUHAN KEPERAWATAN

KALA I- fase laten
Pengkajian
1. Integritas ego
Klien tampak senang atau cemas
2. Nyeri atau ketidaknyamanan
Kontraksi regular : terjadi peningkatan frekuensi, durasi dan keparahan
3. Seksualitas
Servik dilatasi 0-4 cm mungkin ada lender merah muda kecoklatan atau terdiri dari flak lendir.

Prioritas keperawatan :
  1. Mungkin kesiapan emosi dan fiosik klien/ pasangan thd persalinan
  2. Meningkatkan dan mempermudah kemajuan persalinan normal
  3. Mendukung kemampuan koping klien / pasangan
  4. Mencegah koplikasi mayernal / janin
Diagnosa Keperawatan
1. Risiko tinggi terhadap ansietas berhubungan dengan krisis situasi, kebeutuhan tidak terpenuhi
2. Kurang pengetahuan tentang kemajuan persalinan, ketersediaan pilihan berhubungan dengan kurang mengingat informasi yang diberikan, kesalahan interpretasi informasi
3. Risiko tinggi terhadap infeksi maternal berhubungan dengan pemeriksaan vagina berulang dan kontaminasi fekal
4. Risiko tinggi terhadap kekuranggan voume cairan berhubungan dengan penurunan masukan dan peningkatan kehilangan cairan melalui pernapasan mulut
5. Risiko tinggi terhadap koping individu tak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan system pendukung
6. Risiko tinggi terhadap cedera janin berhubungan dengan hipoksia jaringan atau hiperkapnia atau infeksi

Intervensi Keperawatan

Diagnosa 1
• Orientasikan klien pada lingkungan, staf dan prosedur
• Berikan informasi tentang perubahan psikologis dan fisiologis pada persalinan
• Kaji tingkat dan penyebab ansietas
• Pantau tekanan darah dan nadi sesuai indikasi
• Anjurkan klien mengungkapkan perasaannya

Diagnosa 2
• Kaji persiapan,tingkat pengetahuan dan harapan klien
• Beri informasi dan kemajuan persalinan normal
• Demonstrasikan teknik pernapasan atau relaksasi dengfan tepat untuk setiap fase persalinan

Diagnosa 3
• Pantau masukan dan haluaran
• Pantau suhu setiap 4 jam / lebih sering bila suhu tinggi, pantau tanda vital, DJJ sesuai indikasi
• Kaji produksi mucus dan turgor kulit
• Kolaborasi pemberian cairan parenteral
• Pantau kadar hematokrit.

Diagnosa 4
• Kaji latar belakang budaya klien
• Tekankan pentingnya mencuci tangan yang baik
• Gunakan teknik aseptic saat pemeriksaan vagina
• Lakukan perawatan perineal setelah eliminasi
• Kaji sekresi vagina pantau tanda vital

Diagnosa 5
• Lakukan maneuver Leopold untuk memantau posisi janin berbaring
• Pantau DJJ secara manual
• Catat kemajuan persalinan
• Berikan perawatan perineal, ganti pembalut bila basah
• Kolaborasi pemberian O2 melalui masker wajah, Bantu klien sesuai kebutuhan, siapkan untuk intervensi bedah.

KALA I ( Fase aktif)
Pengkajian
1. Aktivitas istirahat : klien tampak kelelahan
2. Integritas Ego
Klien tampak serius dan tampak terhanyut dalam proses persalinan ketakutan teentang kemampuan mengendalikan pernapasan
3. Nyeri atau ketidaknyamanan
Kontraksi sedang, terjadi 2.5-5 menit dan berakhir 30-40 detik
4. Keamanan
Irama jantung janin terdeteksi agak di bawah pusat, pada posisi verteks
5. Seksualitas
Dilatasi servik dari 4-8 cm (1,5 cm/ jam pada multipara dan 1,2 cm/ jam pada primi para)
Prioritas Keperawatan
1. meningkatkan dan memudahkan kemajuan normal dari persalinan
2. mendukung kemampuan koping klien / pasangan
3. meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin

Diagnosa & Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut b/d dilatasi jaringan atau hipoksia
Intervensi :
• Kaji derajat ketidaknyamanan secara verbal dan nonverbal
• Bantu penggunaan teknik pernapasan dan relaksasi
• Bantu tindakan kenyamanan spt. Gosok punggung, kaki
• Anjurkan pasien berkemih 1-2 jam
• Berikan informasi tentang keterseduaan analgesic
• Dukung keputusan klien menggunakan obat-obatan/tidak

2. Perubahan eliminasi urine b/d perubahan masukan dan kompresi mekanik kandung kemih.
Intervensi :
• Palpasi diatas simpisis pubis
• Catat dan bandingkan masukan dan haluaran
• Anjurkan upaya berkemih, sedikitnya 1-2 jam
• Posisikan klien tegak dan cucurkan air hangat diatas perineum
• Ukur suhu dan nadi, kaji adanya peningkatan
• Kaji kekeringan kulit dan membrane mukosa

3. Resiko tinggi terhadap koping individu tak efektif b/d krisis situasi
Intervensi :
• Tentukan pemahaman dan harapan terhadap proses persalinan
• Anjurkan mengungkapkan perasaan
• Beri anjuran kuat thd mekanisme koping positif dan Bantu relaksasi

4. Resiko tinggi terhadap cedera maternal b/d efek obat-obatan pertambahan motilitas gastric
Intervensi :
• pantau aktifitas uterus secara manual
• lakukan tirah baring saat persalinan menjadi intensif
• Hindari meninggalkan klien tanpa perhatian
• Tempatkan klien pada posisi tegak, miring kekiri
• Berikan perawatan perineal selama 4 jam
• Pantau suhu dan nadi
• Kolaborasi pemberian antibiotik (IV)

5. Resiko tinggi terhadap kerusakan gas janin b/d perubahan suplai O2 dan aliran darah
Intervensi :
• Kaji adanya kondisi yang menurunkan sirkulasi utera plasenta
• Pantau DJJ dengan segera bila pecah ketuban
• Intruksikan untuk tirah baring bila presentasi tidak masuk pelvis
• Pantau turunnya janin pada jalan lahir
• Kaji perubahan DJJ selama kontraksi

KALA I Fase Deselerasi
A.Pengkajian
1. Sirkulasi
Tekanan darah meningkat 5-10 mmHg, nadi meningkat
2. Integritas ego
Perilaku peka, mengalami kesulitan mempertahankan kontrol memerlukan pengingat tentang pernapasan
3. Makan/cairan
Mual/muntah dapat terjadi
4. Nyeri atau ketidaknyamanan
Kontraksi uterus kuat, terjadi setiap 2-3 menit. Ketidaknyamanan hebat pada masa area abdomen dan sakral klien sangat gelisah karena nyeri dan ketakutan, memar kaki dapat terjadi.
5. Keamanan
Irama jantung janin dapat terdengar tepat diatas simpisis pubis
6. Seksualitas
Di atas servik 8-10 cm, tampilan darah dalam jumlah berlebihan

Prioritas Keperawatan :
1. Meningkatkan kesejahteraan janin dan maternal
2. Memberi dukungan fisik kepada maternal

B.Diagnosa dan Intervensi keperawatan
1. Nyeri akut b/d tekanan mekanik dari bagian presentasi
Intervensi :
• Kaji tingkat kenyamanan
• Pantau frekuensi, durasi dan intensitas kontraksi uterus
• Berikan lingkungan yang tenang
• Pantau dilatasi servik
• Anjurkan klien untuk berkemih
• Pantau tanda vital dan DJJ

2. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d penurunan aliran darah vena
Intervensi :
• Kaji tekanan darah dan nadi diantara kontraksi
• Perhatikan ada dan luasnya edema
• Catat masukan parenteral dan oral dan haluaran
• Pantau tanda vital

3. Resiko tinggi terhadap kehilangan volume cairan b/d kehilangan cairan/hemoragi berlebihan.
Intervesi :
• Pantau tekanan darah dan nadi setiap 15 menit
• Kaji tingkat ansietas klien
• Ukur suhu tiap 4 jam
• Catat masukan dan haluaran
• Ukur jumlah dan karakter embisis
• Lepaskan pakaian yang berlebihan
• Kaji jumlah dan lokasi edem, kadar hematokrit dan perubahan perilaku
• Kolaborasi pemberian cairan IV

4. Keletihan b/d ketidaknyamanan atau nyeri ditandai dengan pengungkapan kemampuan berkonsentrasi terganggu, emosi labil, perubahan kemampuan koping
Intervensi :
• Kaji derajat keletihan
• Sediakan lingkungan yang redup dan tidak membingungkan klien
• Pertahankan supaya klien tetap mendapatkan informasi tentang kemajuan persalinan.

KALA II (Pengeluaran)
A.Pengkajian
1. Aktivitas/istirahat
• Melaporkan kelelahan
• Melaporkan ketidakmampuan melakukan dorongan sendiri/teknik relaksasi
• Lingkaran hitam dibawah mata
2. Sirkulasi
Tekanan darah meningkat 5-10 mmHg

3. Integritas ego
Dapat merasa kehilangan kontrol/sebaliknya
4. Eliminasi
Keinginan untuk defekasi, kemungkinan terjadi distensi kandung kemih
5. Nyeri/ketidaknyamanan
• Dapat merintih/menangis selama kontraksi
• Melaporkan rasa terbakar/meregang pada perineum
• Kaki dapat gemetar selama upaya pendorong
• Kontraksi uterus kuat terjadi 1,5 – 2 menit
6. Pernapasan
Peningkatan frewkuensi pernapasan
7. Seksualitas
• Servik dilatasi penuh(10 cm)
• Peningkatan perdarahan pervagina
• Membran mungkin ruptur, bila masih utuh
• Peningkatan pengeuaran cairan amnion selama kontraksi

B.Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

1. Nyeri akut b/d tekanan mekanis pada bagian presentasi ditandai dengan pengungkapan, perilaku distraksi (gelisah), wajah menahan nyeri
Intervensi :
• Identifikasi derajat ketidaknyamanan
• Berikan tanda/tindakan kenyamanan seperti perawatan kulit, mulut, perineal dan alat-alat tenun yang kering
• Bantu klien memilih posisi optimal untuk mengedan
• Pantau tanda vital ibu dan DJJ
• Kolaborasi pemasangan kateter dan anastesi
2. Perubahan curah jantung b/d fluktuasi pada aliran balik vena ditandai dengan variasi tekanan darah, perubahan frekuensi nadi, penurunan haluaran urine, bradikardia janin.
Intervensi :
• Pantau tekanan darah dan nadi tiap 5-15 menit
• Anjurkan klien untuk inhalasi dan ekhalasi selama upaya mengeda
• Pantau DJJ setiap kontraksi
• Anjurkan klien/pasangan memilih posisi persalinan yang mengoptimalkan sirkulasi
3. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b/d pola interaksi hipertonik
Intervensi :
• Bantu klien dan pasangan pada posisi tepat
• Bantu klie sesuai kebutuhan
• Kolaborasi episiotomi garis tengah natau medio lateral
• Kolaborasi terhadap pemantauan kandung kemih dan kateterisasi


KALA III : Pengeluaran Plasenta
A. Pengkajian
1. Aktivitas atau istirahat.
Klien tampak senang dan keletihan.
2. Sirkulasi.
 Tekanan darah meningkat saat curah jantung meningkat dan kembali normal dengan cepat.
 Hipotensi akibat analgesik dan anastesi.
 Nadi melambat.
3. Makan dan cairan
Kehilangan darah normal 250 – 300 ml.
4. Nyeri atau ketidaknyamanan.
Dapat mengeluh tremor kaki atau menggigil.
5. Seksualitas.
 Darah berwarna hitam dari vagina terjadi pada saat plasenta lepas.
 Tali pusat mamanjang pada muara vagina.

B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperawatan.

1. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang pembatasan masukan oral , muntah.
Intervensi :
  • Instruksikan klien untuk mendorong pada kontraksi.
  • Kaji tanda vital setelah pemberian oksitosin.
  • Palpasi uterus.
  • Kaji tanda dan gejala shock.
  • Massase uterus dengan perlahan setelah pengeluaran plasenta.
  • Kolaborasi pemberian cairan parenteral.
2. Resiko tinggi terhadap cedera maternal berhubungan dengan posisi selama persalinan.
Intervensi :
  • Palpasi fundus uteri dan massase dengan perlahan.
  • Kaji irama pernafasan.
  • Bersihkan vulva dan perineum dengan air dan larutan anti septic.
  • Kaji perilaku klien dan perubahan system saraf pusat.
  • Dapatkan sample darah tali pusat , kirim ke laboratorium untuk menentukan golongan darah bayi.
  • Kolaborasi pemberian cairan parenteral.
3. Resiko tinggi terhadap perubahan proses keluarga berhubungan dengan terjadi transisi ( perubahan anggota keluarga ).
Intervensi :
  • Fasilitasi interaksi antara klien atau pasangan dengan bayi baru lahir.
  • Beri klien dan ayah kesempatan untuk menggendong bayi.
  • Diskusi proses normal dari persalinan tahap III.
  • Diskusikan rutinitas periode pemulihan selama 4 jam pertama.
4. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan setelah melahirkan ditandai dengan penggunaan pengungkapan , perubahan tonus otot dan gelisah.
Intervensi :
  • Bantu penggunaan teknik pernafasan .
  • Berikan kompres es pada perineum setelah melahirkan.
  • Ganti pakaian dan linen basah.
  • Berikan selimut penghangat .
  • Kolaborasi perbaikan episiotomi.

KALA IV
A. Pengkajian
1. Aktivitas
Dapat tampak berenergi atau kelelahan
2. Sirkulasi
Nadi biasanya lambat sampai (50-70x/menit) TD bervariasi, mungkin lebih rendah pada respon terhadap analgesia/anastesia, atau meningkat pada respon pemberian oksitisin atau HKK,edema, kehilangan darah selama persalinan 400-500 ml untuk kelahiran pervagina 600-800 ml untuk kelahiran saesaria
3. Integritas ego
Kecewa, rasa takut mengenai kondisi bayi, bahagia
4. Eliminasi
Hemoroid, kandung kemih teraba diatas simpisis pubis
5. Makanan/cairan
Mengeluh haus, lapar atau mual
6. Neurosensori
Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun pada adanya anaestesia spinal
7. Nyeri/ketidaknyamanan
Melaporkan nyeri, misalnya oleh karena trauma jaringan atau perbaikan episiotomi, kandung kemih penuh, perasaan dingin atau otot tremor
8. Keamanan
Peningkatan suhu tubuh
9. Seksualitas
Fundus keras terkontraksi, pada garis tengah terletak setinggi umbilikus, perineum bebas dari kemerahan, edema, ekimosis atau rabas. Striae mungkin ada pada abdomen, paha, dan payudara

B. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

1. Perubahan ikatan proses keluarg b/d transisi/peningkatan anggota leluarga
Intervensi :
  • Anjurkan klien untuk menggendong, menyentuh bayi
  • Anjurkan ayah untuk menggendong bayi
  • Observasi dan catat interaksi bayi
  • Anjurkan dan Bantu pemberian asi, tergantung pada pilihan klien

2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d kelelahan/ketegangan miometri dari mekanisme homeostatic missal : efek HKK
Intervensi:
  • Tempatkan klien pada posisi rekumben
  • Kaji hal yang memperberat kejadian intraportal
  • Perhatikan jenis jenis persalinan dan anastesi, kehilangan darah pada persalinan
  • Kaji TD dan nadi setiap 15 menit
  • Dengan perlahan masase fundus bila lunak
  • Kaji jumlah, warna dan sifat aliran lokea
3. Nyeri akut b/d efek hormone, trauma mekanis/edema jaringan, kelelahan fisik dan psikologis, ansietas
Intervensi :
  • Kaji sifat dan derajat ketidaknyamanan
  • Beri informasi yang tepat tentang perawatan selama periode pasca partum
  • Inspeksi perbaikan episiotomi atau luka
  • Lakukan tindakan kenyamanan
  • Anjurkan penggunan teknik relaksasi
  • Beri analgesik sesuai kebutuhan


DAFTAR PUSTAKA

Marilyn E Doengoes. 2001. Rencana Perawatan maternal/Bayi. EGC : Jakarta
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. EGC. Jakarta

LAPORAN PENDAHULUAN MIOMA UTERI

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA PASIEN DENGAN MIOMA UTERI

I. Konsep Dasar Teori
A. Pengertian
Mioma uteri adalah neoplasma jinak berasal dari otot uterus yang dalam kepustakaan ginekologi juga terkenal dengan istilah-istilah fibrom ioma uteri, leromioma uteri atau uferine fibroid.
Frekuensi tumor ini sulit diketahui karena banyak diantara mereka tidak mempunyai keluhan apa-apa. Tumor ini tergolong tumor pelviks dan sering ditemukan pada masa reproduksi. Diperkirakan bahwa frekuensi mioma uteri kurang lebih 10% dari jumlah seluruh penyakit pada alat-alat genital.
B. Penyebab
1. asimtomatik (belim diketahui secara pasti)
2. menurut teori cell Nest (teori genitoblast) yang diajukan oleh Meyer dan De Snoo, dimana mioma uteri berasal dari sel-sel imatur yang mendapat rangsangan estrogen terus menerus.
3. keadaan sosial ekonomi rendah.
C. Patologi
Menurut letaknya, mioma uteri dapat dibagi menjadi:
1. mioma submukosa, berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam kavum uteri. Mioma sub mukosum dapat bertangkai menjadi polip lalu dilahirkan melalui kanalis servikalis (mioma geburt).
2. mioma intramura, terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium.
3. mioma subserosum, tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Mioma subserosum dapat menempel pada jaringan sekitar kemudian membebaskan diri(wondering/parasitis fibroid)
Bila mioma uteri dibelah, tampak terdiri atas berkas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti konde/pusaran air dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar.
D. Tanda dan gejala
1. tanda gejala ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan ginekologi.
2. perdarahan abnormal.
3. Rasa nyeri.
4. Akibat penekanan: pada kandung kencing menyebabkan poliuri, pada uretra menyebabkan retensio urine, pada ureter menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum menyebabkan oedem tungkai dan nyeri panggul.
5. Infertilitas dan abortus
Infertilitas dapat terjadi jika mioma intramural menutup atau menekan pars interstisialis tubae. Mioma submukosum memudahkan terjadinya abortus. Apabila ditemukan mioma pada wanitadengan keluhan infertilitas harus dilakukan pemeriksaan yang seksama terhadap sebab-sebab lain dari infertilitas sebelum menghubungkannya dengan adanya mioma uteri.
E. Komplikasi
1. Pertumbuhan leimiosarkoma
Adalah tumor yang tumbuh dari miometrium dan merupakan 50-75% dari semua sarkoma uteri. Kecurigaan terhadap sarkoma pada mioma uteri timbul suatu mioma uteri yang selama beberapa tahun tidak membesar sekonyong-konyong menjadi besar. Apalagi hal itu terjadi sesudah menopause. Yang menjadi persoalan dalam hal ini adalah apakah sarkoma tumbuh dalam jaringan mioma sendiri atau dalam jaringan miometrium di luar mioma.
2. tersi atau putaran tungkai
Adakalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau hal ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan nampak gambaran klinik dari abdomen akut. Pada mioma parasitik atau mioma mengembang, mioma berdiri sendiri dan hidupnya tak tergantung lagi pada pemberian darah melalui tangkai. Mioma ini berada bebas dalam rongga perut dan menimbulkan kesukaran diagnostik.
3. nikrosis dan infeksi
Pada mioma submukosumyang menjadi polip ujung tumor kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan melahirkan melalui vagina. Dalam hal ini ada kemungkinan gangguan sirkulasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder. Penderita mengeluh tentang perdarahan yang bersifat menoragia atau metroragia dan leokorea.
F. Penatalaksanaan medis
1. pengobatan penunjang
khusus sebagai penunjang pengobatan bagi penderita dengan anemia karena hiper minoreadapat diberikan ferum, tranfusi darah diit kaya protein, kalsium, dan vitamin c. Sementara direncanakan pengobatan yang difinitif.
2. Pengobatan operatif
a. Miomektomi
Miomektomi atau operasi pengangkatan mioma tanpa mengorbankan uterus dilakukan pada mioma subversum bertangkai atau jika fungsi uterus masih dipertahankan. Pada mioma submukosum yang dilahirkan dalam vagina, umumnya tumor dapat diangkat pervagina tanpa mengangkat uterus.
Keberatan terhadap miomektomi adalah:
1) angka residitif 2,10%. Mungkin hal ini disebabkan oleh kurang ketelitian waktu operasi, akan tetapi mungkin pula ada mioma-mioma sangat kecil yang tidak terlihat pada operasi dan mioma ini kemudian menjadi besar.
2) Perdarahan pada operasi ini kadang-kadang banyak.
b. histerektomi
umumnya dilakukan histerektomi abdominal akan tetapi jika uterusnya tidak terlalu besar dan apalagi jika terdapat pula prolapsus uteri histerektomi vaginal dapat dipertimbangkan.
3. sinar rontgen dan radium
sebelum dilakukan pengobatan dengan sinar harus dilakukan kerokan dahulu untuk mengetahui bahwa tidak ada karsinoma endonutii. Dengan penyinaran fungsi ovarium dihentikan dan tumor akan mengecil. Pemberian sinar rontgent akan lebih baik daripada radium karena dapat menyebabkan nekrosis dan infeksi pada tumor.
4. hormonal
estrogen untuk pasien setelah menopause dan observasi setiap 6 bulan.



II. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Mioma Uteri
A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan
Kaji pasien terhadap adanya penyakit lain seperti penyakit tiroid.
2. Riwayat keluarga
Kaji adanya riwayat penyakit keluarga seperti gangguan tiroid, penyakit pada sistem reproduksi maupun lainnya.
3. Riwayat obstetri
a. riwayat menstruasi
b. riwayat perkawinan
c. riwayat penggunaan alat kontrasepsi
d. riwayat penyakit hubungan seksual yang pernah diderita pasien
e. penyakit kesehatan keluarga dan penyakit yang pernah diderita pasien
4. Data subjektif
Meliputi gejala saat ini (gejala saat dilakukan pengkajian)
B. Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan abdomen: uterus yang amat membesar dapat dipalpasi pada abdomen. Tumor teraba sebagai nodul ireguler dan tetap, area perlunakan memberi kesan adanya perubahan-perubahan degeneratif, leiomioma lebih terpalpasi pada abdomen selama kehamilan. Perlunakan pada abdomen yang disertai nyeri lepas dapat disebabkan oleh perdarahan intraperitoneal dari ruptur vena pada permukaan tumor.
2. pemeriksaan pelvis: servik biasanya normal. Namun pada keadaan tertentu, leiomioma submukosa yang bertangkai dapat mengawali dilatasi serviksdan terlihat pada osteum servikalis. Uterus cenderung membesar dan tidak beraturan serta noduler.
C. Prosedur diagnostik
1. Tes laboratorium
Hitung darah lengkap dan apusan darah: leukositosis dapat disebabkan oleh nekrosis akibat torsi atau degenerasi. Menurunnya kadar hemoglobin dan hematokrit menunjukkan adanya kehilangan darah yang kronik.
2. Tes kehamilan terhadap chorioetic gonadotropin
Sering membantu dalam evaluasi suatu pembesaran uterus yang simetrik menyerupai kehamilan atau terdapat bersama-sama dengan kehamilan.
3. Ultrasonografi
Apabila keberadaan massa pelvis meragukan, sonografi dapat membantu.
4. Pielogram intravena
Dapat membantu dalam evaluasi diagnostik.
5. Pap smear serviks
Selalu diindikasikan untuk menyingkap neoplasia serviks sebelum histerektomi.
6. Histerosal pingogram
Dianjurkan bila klien menginginkan anak lagi dikemudian hari untukmengevaluasi distorsi rongga uterus dan kelangsungan tuba falopii.


D. Pohon masalah
Mioma uteri


Serviks uteri korpus uteri

Kanalis servikalis


Bagian yang ditumbuhi mioma membesar



Penyempitan kanalis miometrium terdesak
Servikalis

Nyeri terbentuk psedokopnea


E. Diagnosa keperawatan
1. Perubahan pola eliminasi (BAK) b/d penurunan kapasitas kandung kemih akibat kanker ditandai dengan pasien mengeluh sering kencing.
2. Konstipasi b/d penuruna peristaltik sekunder terhadap pembesaran mioma uteri ditandai dengan adanya rasa tertekan di daerah anus.
3. Gangguan rasa aman cemas b/d gangguan pada integritas biologis sekunder terhadap infertilitas ditandai dengan terjadinya penutupan dan penekanan pada pars interstitialis.
4. Nyeri akut b/d penyempitan kanalis servikalis sekunder akibat kanker.
5. Risiko kekurangan volume cairan b/d perdarahan.
F. Rencana keperawatan
1. Dx 1
- Perhatikan pola berkemih atau awasi haluaran urine
- Palpasi kandung kemih, selidiki / kaji kenyamanan berkemih
- Berikan perawatan perinial
- Kolaborasi pemasangan kateter bila di indikasikan
- Kaji karateristik urine; warna, bau dan kejernihan
- Periksa residu volume urine setelah berkemih
2. Dx 2
- Auskultasi bising usus, perhatikan adanya disternsi abdomen
- Dorong pemasukan cairan adekuat termasuk sari buah
- Gunakan sarung rektal, lakukan kompres hangat di daerah perut
- Berikan obat pelunak feses, laksatif setelah berkemih
3. Dx 3
- Kaji adanya palpitasi, gelisah, dispnea
- Kaji perasaan saat sangant sedih dan tidak berharga, keprihatinan, penolakan, isolasi
- Kaji tingkat ansietas
- Beri pemahaman / penentraman hati dan kenyamanan dengan berbicara pelan dan tenang
- Tunjukkan sikap empati
- Berikan penjelasan secara lengkap tentang keadaan pasien penyakit dan pengobatan yang harus dijalani termasuk tindakan yang akan diberikan.
4. Dx 4
- Kaji skala nyeri
- Jelaskan penyebab nyeri
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi
- Kolaborasi tindakan miomektomi
5. Dx 5
- Kaji intake dan output cairan
- Periksa turgor kulit
- Observasi adanya perdarahan
- Beri intake yang adekuat
G. Evaluasi
1. Dx 1
- Pola eliminasi BAK kembali normal
- Pasien tampak nyaman
2. Dx 2
- Pola BAB pasien kembali normal
- Bising usus normal (5-35 x/mnt)
- Distensi abdomen (-)
3. Dx 3
- Pasien lebih tenang
- Pasien tidak sdih dan tidak cemas
- Pengetahuan tentang penyakitnya bertambah
4. Dx 4
- Nyeri berkurang / menghilang
- Dapat beristirahat sesuai dengan kebutuhan
- Pasien tidak meringis
5. Dx 5
- Kebutuhan cairan pasien terpenuhi
- Perdarahan (-)
- Turgor kulit elastis



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. (2000) Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta : EGC

Doenges, M.E. (1999) Rencana Keperawatan, Edisi 3. Jakarta : EGC

Manuaba, I. (2001) Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi Dan KB. Jakarta : EGC

Sastrawinata, dkk,. (1998) Ginekologi. Bandung : Elstar Offiset

LAPORAN PENDAHULUAN CA SERVIX

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA SERVIX

I. Pengertian
Karsinoma servik adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada sewrvik dimana dalam keadaan ini terdapat kelompok sel yang abnormal yang terbentuk oleh jaringan yang tumbuh secara terus menerus dan tidak terbatas, tidak terkoordinasi dan tidak berguna lagibagi tubuh sehingga jaringan sekitar tubuh tidak dapat melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya.

II. Etiologi
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab yaitu :
a. Aktifitas seks
b. Hubungan seksual yang tidak stabil
c. Pasangan seks lebih atau berganti-ganti
d. Usia melahirkan pertama yang terlalu dini
e. Infeksi virus HIV

III. Patogenesis
Proses perkembangn Ca servik lambat, diawali dengan adanya displasia yang perlahan menjadi progresif. Displasia ini dapat muncul bila ada aktifitas regresi epitel yang meningkat, trauma mekanik dengan kimiawi, infeksi virus/bakteri, dan gangguan keseimbangan hormon dalam waktu 7 – 10 tahun. Perkembangan tersebut menjadi bentuk berinvasif karsinoma insitu yang diawali dngan fase statis. Dari bentuk pre-invasif karsinoma berlubang menjadi bentuk invasif pada stroma serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi ini menimbulkan luka, perkembangnan yang eksotik dan dapat berinfiltrasi ke kanalis servikalis, lesi meluas ke fornik jaringan pada servik parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan vesika urinaria. Karsinoam servik dapat meluas ke segmen bawah rahim dan uterus dan cavum uteri. Penyebaran ini ditentukan oleh stadium dan ukuran tumor, jenis histologik dan ada atau tidaknya invasi ke pembuluh darah, hipertensi, anemia, dan adanya deman. Penyebaran dapat pula melalui metastase limfatik dan hematogen. Secara hematogen tempat penyebaran ke paru-paru, kelenjar getah bening, mediastinum atau supraklavikula, tulang, hepar, empedu, pankreas, dan otak.

IV. Stadium klinis kanker
1. Stadium 0 : Karsinoma insitu, selaput basal masih utuh.
2. Stadium I : Proses terbatas pada servik
I a : Hanya dpt didiagnosis secara mikroskopik, lesi tidak lebih dari 3 mm
I b : Lesi invasif lebih dari 5 mm.
3. Stadium II : Proses keganasan telah keluar dari servik dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan ke parametrium tetapi tidak sampai ke dinding panggul.
II a : Penyebaran hanya ke vagian, parametrium masih bebbas dari infiltrat tumor
II b : Penyebaran ke parametrium, uni atau bilateral tetapi belum sampai ke dinding panggul
4. Stadium III : Penyebaran sampai 1/3 distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.
III a : Penyebaran sampai 1/3 distal vagina, namun tidak sampai ke dinding panggul
III b : Penyebaran sampai dinding panggul, tidak ditemukan darah bebas infiltrasi antar dinding panggul dengan tumor., sudanh ada ganguan faal ginjal/hidronefrosis.
5. Stadium IV : Karsinoma servik menyebar ke organ dan atau jauh.
IV a : Tempat bermestatase ke organ sekitar
IV b : Tampat bermetastase jauh.

V. Penatalaksanaan
1. Stadium 0, I a : biopsi kerucut, histerektomi transvaginal
2. Stadium I b, II a : histerektomi radikal dengan limfadenetomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe pada aorta (bila terdapat metastase dilakukan radioterapi pasca pembedahan).
3. Stadium II b, III, IV : histerektomi transvaginal
4. Stadium III a, IV b : radioterapi, radiasi paliatif, kemoterapi



VI. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala berdasarkan tahapan dari kanker servik
1. Stadium dini, tidak ada gejala khusus
- ketidakteraturan haid
- Keputihan, warna putih atau purulen yang tidak berbau khas dan tidak gatal
- Perdarahan pasca koitus
- Amenorhea dan hipermenorhea
- Perdarahan khas ; darah yang keluar berupa mukoid
- Nyeri dirasakan menjalar ke ekstremitas bawah dari daerah lumbal
- Pengeluaran sekret dari vagina (perdarahan intermens dan latihan berat)
2. Stadium pertengahan
Gejala yang timbul lebih bervariasi; sekret dari vagina berwarna kuning, berbau dan terjadi iritasi vagina dan mukosa vulva, perdarahan semakin sering dan nyeri semakin progresif.
3. Stadium lanjut
Komplikasi fistula vesikula sehingga urine dan faeces dapat meluas dari vagina. Dapat terjadi muntah, demam, anemia.



VII. Diagnosa Keperawatan
A. Pada pasien Ca servik yang histerektomi
1. Risiko infeksi b/d insisi abdominal/ vagina, pemasangan kateter
2. Perubahan perfusi jaringan b/d bedrest
3. Perubahan pola eleminasi urin b/d pemasangan kateter
4. Kurang volume cairan b/d perdarahan
5. Perubahan eleminasi defekasi : konstipasi b/d pembedahan abdomen
6. Perubahan rasa nyaman : nyeri b/d luka operasi
7. Perubahan dalam konsep diri (body image) b/d aktual/ potensial kehilangan kemampuan sistem reproduksi sekunder terhadap pembedahan
8. Disfungsi seks b/d perubahan body image
9. Kehilangan b/d hilangnya bagian dari sistem reproduksi
10. Cemas b/d pembedahan / kanker
B. Pada pasien dengan Ca Servik yang dilakukan radiasi eksternal
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri0 b/d proses penyakit
2. Keletihan b/d peningkatan kebutuhan energi, penurunan produksi metabolisme energi
3. Terjadi perubahan kulit b/d efek samping radiasi eksterna
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d efek samping radiasi
5. Gangguan eleminasi BAB (diare) b/d efek samping radiasi
6. Risiko infeksi b/d tidak efektifnya pertahanan tubuh
7. Gangguan fungsi seksual b/d efek kanker

C. Pada pasien Ca servik yang mendapat kemoterapi
1. Risiko terhadap kurang volume cairan b/d kehilangan cairan gastro intestinal sekunder akibat muntah
2. Risiko terhadap cedera b/d kecenderungan perdarahan
3. Risiko infeksi b/d perubahan sistem imun sekunder akibat efek dari agen sistoktosik atau proses penyakit
4. Ansietas b/d kemoterapi yang ditentukan, kurang pengetahuan tentang kemoterapi dan tindakan perawatan diri.
5. Keletihan b/d efek anemia, malnutrisi, perdarahan, muntah menetap, dan gangguan pola tidur
6. Risiko terhadap konstipasi b/d disfungsi saraf otonom sekunder akibatpemberian alkaloid
7. Diare b/d kerusakan sel usus, inflamasi dan peningkatan motilitas usus
8. Perubahan kenyamanan b/d kerusakan sel gastro intestinal, rangsanagn pusat saraf, ketakutan, dan ansietas.
9. Perubahan nutrisi kuarng dari kebutuhantubuh b/d anoreksia, perubahan rasa nyaman, mual muntah menetap, dan peningkatan laju metabolisme
10. Perubahan membran mukosa b/d kekringan dan kerusakan sel epitel sekunder akibat kemoterapi




VII. Intervensi (secara umum)
1. Gangguan rasa nyaman ; nyeri b/d proses penyakit (penekanan jaringan saraf infiltrasi)
Intervensi :
- Tentukan riwayat nyeri, misal ; likasi, frekuensi, durasi dan intensitas/skala nyeri (0-!0).
- Berikan tindakan kenyamanan dasar (misal ; reposisi, gosokan punggung, dan aktifitas hiburan seperti musik)
- Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri (misal : teknik relaksasi, visualisasi, guiding imaginary)
- Lakukan tindakan kolaborasi pemberian analgetik

2. Risiko tinggi terhadap konstipasi b/d iritasi mukosa gastriintestinal dari kemoterapi
Intervensi :
- Pastikan kebiasaan eleminasi umum
- Kaji bising usus dan pantau/ catat geraka usus termasuk ferkuensi/konsistensi
- Pantau masukan cairan adekuat (2500 ml/24jam)
- Berikan makanan sedikit tapi sering dengan makanan tinggi serat, mempertahankan kebutuhan protein dan karbohidrat
- Pantau masukan dan haluaran dengan BAB
- Hindari makanan tinggi lemak
- Kolaborasi pemeberian cairan intravena

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d efek samping radiasi
Intervensi :
- Pantau masukan makanan setiap hari
- Ukur TB, BB, dan kekebalan lipatan kulit
- Dorong pasien untuk makan TKTP dengan masukan cairan adekuat
- Identifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi

4. Keletihan b/d peningkatan kebutuhan nutrisi, penurunan produksi metabolisme energi
Intervensi :
- Rencanakan perawatan untuk meningkatkan periode istirahat
- Buat tujuan aktifitas realitas dengan pasien
- Dorong pasien untuk melakukan apa saja bila mungkin
- Pantau respon fisiologis terhadap aktifitas
- Dorng masukan nutrisi

5. Risiko infeksi b/d tidak efektifnya ketahanan tubuh
Intervensi :
- Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik
- Pantau suhu tubuh
- Kaji semua sistem tubuh
- Tingkatkan istirahat adekuat
- Batasi prosedur invasif

6. Risiko tinggi terhadap perubahan seksualitas b/d efek kanker
Intervensi :
- Diskusikan dengan pasien dan orang terdekat tentang sifat seksualitas dan reaksi bila ini berubah
- Ajarkan pasien tentang efek samping dari pengobatan kanker yang dapat memepengaruhi seksualitas
- Berikan waktu tersendiri untuk pasien yang dirawat

IX. Evaluasi
1. Klien dapat mengontrol nyeri
2. Klien dapat mempertahankan pola defekasi normal
3. Mendemonstrasikan BB stabil, penambahan BB secara progresif
4. Melaporkan perbaikan rasa berenergi
5. Mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan untuk mencegah atau mengurangi infeksi
6. Mengungkapkan pemahaman tentang efek kanker dan aturan pengobatan pada seksualitas dan tindakan untuk memperbaiki/menghadapi masalah

Senin, 19 April 2010

Laporan Pendahuluan Apendiksitis

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN APENDIKSITS


I. PENGERTIAN
Apendik adalah organ kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Karena apendik mengosongkan diri dengan tidak efisien, dan lumennya kecil, maka apendik mudah mengalami obttruksi dan rentan terhadap infeksi ( Apendiksitis )
Apendiksitis merupakan penyebab yang paling umum dan imflamasi akut kuadran kanan bawah rongga abdomen dan penyebab yang paling umum dari pembedahan abdomen darurat.
II. TANDA DAN GEJALA
1 Nyeri difus yang timbul mendadak di daerah epigastrium atau periumbilikus
2 Dalam beberapa jam, nyeri lebih terlokalisasi dan dapat di jelaskan sebagai nyeri tekan di daerah kanan bawah
3 Pada titik Mc Burney ( terletak di antara umbilicus dan spina anterior dari ilium ) nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rectus kanan
4 Nyeri lepas atau nyeri alih ( nyeri yang timbul sewaktu tekanan di hilangkan dari bagian yang sakit ) mungkin saja ada, mungkin letak apendik mengakibatkan sejumlah nyeri tekan, spasme otot, dan konstipasi atau diare kambuhan
5 Tanda Rovsing ( dapat di ketahui denagn mempalpasi kuadran kanan bawah yang menyebabkan nyeri pada kiri bawah )
6 Demam
7 Nyeri kuadran bawah biasanya disertai nausea, anoreksia, muntah- muntah dan suhu rendah
III. PATOFISIOLOGI
Reaksi pertama pada infeksi adalah reaksi umum yang melibatkan susunan saraf pusat dan system hormone yang menyebabkan perubahan metabolic. Pada saat itu terjadi reaksi jaringan imforetikularis di seluruh tubuh berupa proliferasi sel pagosit dan sel pembuat antibidi ( limfosit B )
Reaksi kedua berupa reaksi lokal yang di sebut inflamasiakut. Reaksi ini terus berlangsung selama masih terjadi proses pengrusakan jaringan oleh trauma. Bila penyebab kerusakan jaringan biasa di berantas, maka sisi jaringan yang rusak yang di sebut debris akan di fagositosis dan di buang oleh tubuh sampaiterjadi revolusi atau kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reaksi fagosit kadang berlebihan berkumpul dalam suatu rongga membentuk abses atau bertumpuk di sel jaringan yang lain membentuk plegnon (peradangan yang luas dijaringan ikat )
Trauma yang hebat berlebihan dan terus menerus menimbulkan reaksi tubuh yang juga berlebihan yang juga berlebihan berupa fagositosis febris yang di ikuti dengan pembentukan jaringan granulasi vaskuler untuk mengganti jaringan yang rusak. Fase ini di sebut dengan fase organisasi. Bila dalam fase ini pengrusakan berhenti akan terjadi penyembuhan melalui pembentukan jaringan granulasi fibrosa , tetapi bila pengrusakan jaringan berlangsung terus, akan terjadi fase imflamasi ???
Di kenal tiga radang yaitu : inflamasi akut, sub akut dan kronik . gambaran imflamasi akut menunjukan rubor( kemerahan ) dan logor ( demam setempat ) akibat vasodilatasi, dan tumor ( benjolan ) karena eksudasi. Ujung saraf akan terangsang oleh peradangan sehingga terdapat rasa nyeri ( dolor ). Nyeri dan pembengkakan akan menyebabkan gangguan faal. Kelima gejala ini di kenal dengan nama gejala cardinal dari celsus ( ALUS Cornelius Celsua, 53 SM- 50 AD , seorang cendikiawan Romawi )
Abses akibat radang akut berat yang terletak dekat permukaan di tandai dengan adanya fluktuasi, sedangkan flegmon yang sering di temukan di jaringan subkutis di tandai dengan pembengkakan difus yang merah dan sangat nyeri. Pada keduanya biasanya di dapati demam dan umumnya keadaan umum yang menurun. Abses dapat pecah oleh adanyan nekrosis jaringan dan kulit di atasnya
Fase imflamasi akut dapat di ikuti oleh radang kronik. Imflamasi akut atau kronis yang ada di permukaan atau mukosa dapat menyebabkan kerusakan epitel yang menyebabkan tukak atau ulkus. Kadang pusat infeksi atau radang berada jauh di bawah kulit sehingga nanah akan keluar melalui jaringan khusus yang terbentuk pada jaringan yang paling lemah. Jaringan khusus ini di sebut fistel atau sinus ( fistel/fistula : pipa atau sinus : ruang atau cekungan )
Tubuh akan breusaha membatasi infeksi ini dengan mengaktifkan jaringan limfoid sehingga terjadi radang akut kelenjer limfe ( limfadenitis regional )
Bila yang masuk virulensi tinggi, atau keadaan pertahanan tubuh sedang lemah, kuman dapat masuk ke pembuluh darah dan terbawa ke aliran darah terus berkembang biak, dan masuk keseluruh jaringan tubuh menyebabkan septisemia ( pembusukan darah )

IV. KOMPLIKASI
1 Komplikasi mayor adalah perforaisi apendiks yang dapat menorah ke peritonitis atau pembentukan abses
2 Perforasi biasanya terjadi setelah 24 jam setelah awitan nyeri ( gejala- gejalanya termasuk demam, penampilan toksik, dan nyeri berlanjut )
V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1 Jumlah leukosit lebih dari 10.000 / mm3
2 Jumlah netrofil lebih tinggi dari 75 %
3 Pemeriksaan sinar x dan ultrasonografi menunjukan densitas pada kuadran kanan bawah atau tingkat aliran udara setempat
4 Kekakuan pada seluruh dinding abdomen bisa mengindikasikan apendiks rupture dan terjadi peritonitis
VI. PENATALAKSANAAN MEDIS
1 Pembedahan di indikasikan jika terdiagnosa apendiksitis, lakukan apendiktomi secepat mungkin untuk mengurangi perforasi. Metode : insisi abdominal bawah di bawah anastesi umum atau spinal : laparoskopi
2 Berikan antibiotik dan cairan IV sampai pembedahan di lakukan
3 Analgesik data di berikan setelah diagnosa di tegakkan



KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN APENDIKSITIS

I. PENGKAJIAN
1 Aktivitas : malaise
2 Sirkulasi : tachicardia
3 Makanan/ cairan : anoreksia, mual dan muntah
4 Nyeri / kenyamanan
a) Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus yang meningkat berat dan terlokalisai pada titik Mc Burney, meninkat karena berjalan, bersin atau nafas dalam
b) Perilaku berhati- hati
c) Meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan / posisi duduk tegak
5 Keamanan : demam ( biasanya rendah )
6 Pernafasan : takipneu, dan pernafasan dangkal
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1 Nyeri akut berhubungan dengan ditensi jaringan usus oleh inflamasi, adanya insisi bedah
2 Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatannya pertahanan utama perforasi / ruptur pada apendiks peritonitis pembemtukan abses prosedur invasive, insisi bedah
3 Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah pasvca operasi, pembatasan pasca operasi, status hipermetabolic, inflamasi peritoneum dengan cairan asing
4 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubunga dengan kurang terpajan atau nmengingat, salah interpretasi informasi, tidak mengenal informasi
III. PERENCANAAN DAN EVALUASI
1 Diagnosa 1
Tujuan / criteria evaluasi : nyeri hilang / terkontrol
Intervensi :
a) Kaji karakteristik nyeri dengan tehnik P, Q ,R, S, T
b) Oservasi vital sign
c) Observasi respon verbal dan non verbal terhadap nyeri
d) Ajarkan tehnik distraksi ( pengalihan ) dan relaksasi ( nafas dalam )
e) Pertahankan istirahat dalam posisi semi fowler
f) Anjurkan mobilisasi dini
g) Kolaborasi dalam pemberian analgetik

2 Diagnosa 2
Tujuan / kriteria evaluasi : meningkatnya penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda infeksi/ inflamasi, drainage purulen, eritema dan demam
Intervensi :
a) Kaji tanda- tanda infeksi seperti : kolor, dolor, tumor, dan rubor
b) Observasi peningkatan vital sign
c) Rawat luka dengan tehnik aseptic
d) Pantau hasil laboratorium, terutama kadar WBC darah
e) Kolaborasi pemberian antibiotic

3 Diagnosa 3
Tujuan /criteria evaluasi : mempertahankan keseimbangan cairan, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil, haluaran urine adekuat
Intervensi :
a) Ji intake output ( balance cairan ) dalam 24 jam
b) Observasi adanya kekurangan volume cairan ( membrane mukosa, turgor kulit, rekafilary refill )
c) Observasi vital sign terutama tekanan darah dan nadi
d) Beri minum reoral dan lanjukan dengan diet sesuai toleransi
e) Kolaborasi pemberian cairan IV dan elektrolit


4 Diagnosa 4
Tujuan/ criteria evaluasi : menyatakan pemahaman tentang proses penyakit, pengobatan dan potensial terhadap komplikasi
Intervensi :
a) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan , pengobatan dan prognosis penyakit
b) Diskusikan tentang perawatan, pengobatan, dan prognosis penyakit
c) Beri HE tentang perawatan, pengobatan dan prognosis penyakit
d) Beri rewadrd bila dapat menyebutkan kembali penjelasan perawat

Buku sumber :
Corwin, Elisabeth, J, 2000, Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta
Doengoes , Marilym, E, dkk. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, egc, Jakarta
Reeves J. Charlene, rouk Gayle, Lockhart Robin, 2001, Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah, Salemba Medika, Jakarta
Suddarth, Brunner, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta